
Secangkir Java Preanger yang Anda nikmati pagi ini tidak lahir dari romansa kedai kopi ber-AC. Jauh sebelum ia menjadi gaya hidup kaum urban, komoditas ini ditulis dengan keringat, air mata, dan darah di sepanjang tebing curam Cadas Pangeran.
Jalur berkelok di Sumedang ini bukan sekadar aspal penghubung kota, melainkan urat nadi penuh siksaan yang membawa harum kopi Nusantara ke seluruh dunia. Mari kita mundurkan jarum jam ke awal abad ke-18. Pemerintah kolonial—dimulai dari era VOC hingga Hindia Belanda—menerapkan sistem Preangerstelsel.
Rakyat Priangan dipaksa menanam, merawat, dan memanen kopi Arabika berkualitas tinggi yang hidup subur di tanah vulkanis pegunungan. Pasar Eropa langsung jatuh cinta pada tegukan pertama, memunculkan istilah legendaris: a cup of Java.
Masalahnya klasik tapi mematikan, bagaimana membawa berton-ton biji kopi dari pedalaman pegunungan yang terisolasi menuju pelabuhan ekspor sebelum membusuk? Jalur sungai sering kali tak bisa diandalkan, memaksa pembukaan jalur darat menembus hutan rimba dan bukit batu.
Tahun 1808, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mendarat dengan membawa misi besar, membangun Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) sepanjang 1.000 kilometer dari Anyer hingga Panarukan. Tujuannya ganda—pertahanan militer menghadapi Inggris sekaligus jalur logistik ekonomi untuk mempercepat pengangkutan kopi.
Ketika proyek menembus Sumedang, Cadas Pangeran menjadi tembok pembatas paling ekstrem. Ribuan rakyat dipaksa membedah bukit batu cadas dengan linggis, cangkul, dan tenaga seadanya di bawah ancaman penyakit malaria serta kejamnya mandor. Tragedi kemanusiaan ini memicu perlawanan simbolis yang dilakukan oleh Bupati Sumedang, Pangeran Kusumadinata IX alias Pangeran Kornel. Ia menyambut Daendels dengan menjabat tangan sang Gubernur Jenderal menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanannya menggenggam hulu keris pusaka. Tindakan berani ini memaksa Daendels mendatangkan pasukan zeni dan mesiu untuk membantu memecah batu, sekaligus sedikit meringankan beban rakyat. Setelah jalur berhasil ditembus, Cadas Pangeran berubah menjadi nadi utama pengangkutan. Setiap hari, cikar—kereta kayu tradisional yang ditarik sapi atau kerbau—berderit membawa karung-karung goni berisi biji kopi pilihan.
Menariknya, ke mana arah komoditas ini diangkut? Kopi-kopi dari pedalaman Priangan ini tidak langsung jalan-jalan ke luar negeri begitu saja. Berdasarkan catatan sejarah logistik kolonial, rutenya terarah ke dua titik simpul utama sebelum dikapalkan ke Amsterdam:
- Pelabuhan Cirebon. Kopi dari wilayah Priangan Timur dikirim ke timur melalui jalur darat Cadas Pangeran menuju Sumedang, Kadipaten, hingga pesisir Cirebon. Terkadang, pengangkutan juga memanfaatkan rakit atau perahu menyusuri aliran Sungai Cimanuk dari Karangsambung (Tomo) menuju pantura.
- Pelabuhan Batavia. Menjadi pusat pengumpulan utama, terutama bagi wilayah Priangan Barat, sebelum akhirnya armada kapal dagang membawanya menyeberangi lautan menuju Eropa.
Perjalanan ini diwarnai risiko tinggi: mulai dari cikar yang tergelincir ke jurang akibat rem blong, ancaman harimau Jawa yang masih berkeliaran, hingga kawanan bandit. Aroma kopi di sepanjang jalan bercampur dengan bau keringat, debu tanah merah, dan sisa mesiu.
Kejayaan itu sempat hantam badai ketika wabah penyakit karat daun (Hemileia vastatrix) melanda pada akhir abad ke-19, memaksa peralihan ke varietas Robusta. Namun, sejarah berputar. Hari ini, kopi Arabika Priangan bangkit kembali melalui sentuhan para petani muda di Manglayang, Tampomas, Papandayan, hingga Puntang yang mengandalkan teknik pasca-panen modern (honey, natural, hingga fermentasi anaerobik).
Lintasan Cadas Pangeran kini telah berdampingan dengan jalan raya modern yang lebih aman. Warung-warung kopi sederhana berjejer di pinggir jalan, menawarkan tempat singgah bagi pengendara untuk menikmati seduhan lokal sambil memandang jurang yang kini hijau royo-royo.
Lain kali Anda menyeruput secangkir specialty coffee Jawa Barat di kedai favorit, ingatlah bahwa di balik kompleksitas rasa karamel, jeruk, dan aroma melati yang mengepul di meja Anda, tersimpan peluh, air mata, dan sejarah panjang para leluhur di tebing cadas Sumedang.